makanan khas jembrana kondo

Makanan Khas Jembrana Asal Loloan: Kondo atau Kondow

Di tengah hiruk pikuk wisata Bali yang identik dengan Kuta, Seminyak, dan Ubud, Kabupaten Jembrana di ujung barat Pulau Dewata menyimpan kekayaan kuliner yang jarang disorot namun begitu istimewa.

Salah satunya adalah Kondo atau Kondow, olahan daging sapi fermentasi yang lahir dari rahim peradaban Kampung Melayu Loloan dan telah bertahan selama berabad-abad sebagai warisan leluhur yang tak ternilai.

Mengenal Kondo Kondow, Kuliner Fermentasi Tertua dari Kampung Loloan Jembrana

Kondow adalah menu warisan nenek moyang dan lauk khas masyarakat Loloan yang berbahan dasar daging sapi fermentasi. Kondow merupakan cerminan peradaban Bugis yang mengakar kuat di Jembrana.

Nama “Kondo” dan “Kondow” sejatinya merujuk pada hidangan yang sama, hanya berbeda dalam cara penulisan dan penyebutan di antara masyarakat setempat.

Menu khas kondow ini sebenarnya diadopsi oleh masyarakat Loloan dari jamuan menu para bangsawan Bugis di abad ke-17 Masehi.

Di antara keunikan rumah panggung Loloan yang telah bertahan ratusan tahun, makanan khas yang sudah mulai terlupakan di masa sekarang adalah menu lauk kondow yang berbahan dasar daging sapi yang sudah difermentasi.

Sejarah Kondow Jembrana: Bekal Saudagar Bugis yang Berlayar di Lautan

Kisah di balik Kondow jauh lebih dalam dari sekadar urusan dapur. Sejarah Kondow berawal dari perniagaan pada masa keemasan Bandar Loloan.

Para saudagar sering berlayar menjelajahi berbagai pelabuhan nusantara dan perjalanan mereka memakan waktu lama sehingga mereka membutuhkan bekal makanan yang awet.

Daging sapi yang difermentasi adalah jawabannya, karena menu ini tahan berhari-hari di lautan tanpa perlu lemari pendingin berkat teknik fermentasi alami.

Seiring berjalannya waktu, fungsi Kondow pun bergeser dari sekadar bekal perjalanan menjadi simbol keistimewaan.

Kondow merupakan menu istimewa untuk menjamu para tetamu yang datang berkunjung ke rumah panggung di Loloan pada abad ke-18 Masehi dan disajikan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang, termasuk para Raja Jembrana.

Rasa Khas Kondow: Gurih, Asam, dan Pedas yang Bikin Ketagihan

Bagi siapa pun yang pertama kali mencicipi Kondow, cita rasanya akan langsung meninggalkan kesan mendalam. Daging sapi yang sudah mengalami proses fermentasi memiliki rasa unik dan berbeda dari daging sapi pada umumnya.

Rasa gurih dan sedikit asam menjadi ciri khas kondo yang membuatnya begitu populer di kalangan masyarakat Loloan Barat.

Sambalnya yang khas membuat ketagihan dengan rasa pedas khas yang menjadi ciri khas yang tak pernah hilang dan merupakan budaya Bugis.

Perpaduan antara asam dari proses fermentasi, gurih dari bumbu yang meresap sempurna, dan pedas dari sambal khas Loloan menjadikan Kondow pengalaman kuliner yang sulit dilupakan dan selalu membuat siapapun ingin kembali mencicipinya.

Kondow Kuliner Khas Ramadan Loloan yang Hanya Ada Setahun Sekali

ngabuburit di jembrana

Salah satu hal yang membuat Kondow semakin istimewa adalah kelangkaannya. Kondo adalah masakan daging sapi fermentasi yang menjadi favorit karena hanya ada saat bulan puasa.

Setiap bulan puasa, pasar dadakan di sepanjang Jalan Semangka, Lingkungan Terusan, Kelurahan Loloan Barat selalu ramai dikunjungi pembeli yang memburu Kondow sebagai kudapan berbuka puasa.

Mencicipi kondo menjadi pengalaman yang tidak terlupakan karena sensasi menikmati daging sapi fermentasi sangat berkesan dan membuat orang ingin mencicipinya lagi.

Kelangkaan inilah yang justru membuat Kondow memiliki daya tarik tersendiri. Wisatawan yang beruntung berkunjung ke Jembrana saat Ramadan akan mendapatkan pengalaman kuliner yang tak mungkin mereka temukan di tempat lain maupun di waktu lain sepanjang tahun.

Kondow sebagai Warisan Budaya Kuliner Jembrana yang Perlu Dilestarikan

Di balik kelezatannya, Kondow menyimpan tanggung jawab besar untuk terus dijaga keberlangsungannya. Kondow adalah jembatan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini agar generasi muda tahu sejarah di balik setiap makanan.

Kondo seharusnya ada di menu pedagang nasi di Jembrana sehingga banyak masyarakat yang dapat merasakannya dan tidak hanya menunggu bulan puasa.

Harapan ini mencerminkan keinginan banyak pihak agar Kondow tidak hanya hidup sebagai kenangan musiman, melainkan menjadi kebanggaan kuliner Jembrana yang bisa dinikmati kapan saja dan oleh siapa saja.

Kondow bukan sekadar makanan. Ia adalah catatan sejarah yang bisa dimakan, warisan leluhur yang tersimpan dalam setiap gigitan, dan bukti nyata bahwa kekayaan budaya Jembrana jauh melampaui apa yang selama ini terlihat di permukaan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *